Selasa, 09 Juli 2013

Musium Sultan Mahmud Badaruddin 2


a.     Museum Sultan Mahmud Badaruddin II

·        Latar Belakang dan Sejarah

Museum ini merupakan Benteng Kuto Lama dimana Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo dan Sultan Mahmud Badaruddin I (1724-1758) memerintah. Pada tahun 1821, tempat ini diserang oleh tentara Belanda dan pada 17 Oktober 1823 berhasil dihancurkan oleh perintah gubernur Belanda I.L. Van Seven House sebagai balas dendam kepada Sultan yang telah membakar Loji Aur Rive. Kemudian museum ini dibangun kembali pada tahun 1825 menjadi sekretariat gubernur dan tempat tinggal.

Antara tahun 1942-1945, selama pendudukan Jepang, gedung ini dikuasai oleh tentara Jepang dan dikembalikan ke penduduk Palembang ketika proklamasi tahun 1945. Pada tahun 1949, Museum ini direnovasi dan difungsikan sebagai markas Kodam II/Sriwijaya. Berdasarkan penyelidikan oleh tim arkeologis pada tahun 1988, pondasi Kuto Lama ditemukan di bawah balok kayu.

Museum Sultan Mahmud Badaruddin II berlokasi tidak jauh dari Benteng Kuto Besak. Posisinya tepat di sebelah kiri benteng tersebut. di atas reruntuhan keraton Kuto Lamo (keraton ke tiga kesultanan Palembang Darussalam).

Berbeda dengan bangunan yang didirikan pada masa Kesultanan Palembang Darussalam yang umumnya memakai bahan kayu, Museum Sultan Mahmud Badaruddin II memakai bahan bata dan memiliki arsitektur Indis, yang asal katanya adalah Indische Woonhuizen, maksudnya arsitektur yang merupakan asimilasi dari bangunan dengan unsur-unsur budaya barat terutama Belanda dengan budaya lokal.

Selain difungsikan sebagai museum, saat ini bangunan tersebut juga digunakan sebagai Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Palembang. Meskipun telah mengalami renovasi, namun bentuk asli bangunan tersebut tidak berubah. Perubahan hanya dilakukan pada bagian dalam bangunan dengan menambah sekat-sekat dan penutupan pintu-pintu penghubung. Di depan bangunan ini pun kita bisa mengamati sungai Musi dengan restoran terapungnya yang menarik.

·        Koleksi
Koleksi Museum Sultan Mahmud Dararuddin berupa : Koleksi Numismatika, Koleksi Etnografika, Koleksi Keramologika, Koleksi Seni Rupa, Koleksi erkeologika dan Koleksi Biologika.

Cerita Singkat Kehidupan SMB 2


a.     Cerita Singkat mengenai Kehidupan Sultan Mahmud Badaruddin II

Sultan Mahmud Badarudin II adalah seorang Pahlawan Kemerdekaan Nasional yang berasal dari Palembang,Sumatera Selatan. Ia lahir tahun 1768 dengan nama kecil Raden Hasan, putra Sultan Muhammad Nadauddin. Sejak kecil ia menunjukkan kecerdasan yang menonjol. Wataknya keras dan teguh dalam pendirian. Apa yang dianggapnya benar, akan dibelanya. Selain itu, ia sangat ramah dan pandai bergaul. Semua itu membuatnya selalu kelihatan sebagai pemimpin di antara kawan-kawan sebayanya. Pendidikan yang diterimanya waktu kecil cukup keras dan penuh kedisiplinan.
Selain mendapat pendidikan dari orang tua di Kesultanan, Raden Hasan juga memperdalam Agama Islam di Surau. Surau itu semacam pesantren. Raden Hasan menguasai bahasa Arab dan Portugis. Ia hafal isi Al Qur’an. Pengetahuannya dapat menjadi bekal di kemudian hari. Raden Hasan menjadi seorang anak kepercayaan ayahnya dan berhak menjadi Sultan. “Kau akan menggantikanku sebagai Sultan,” kata ayahnya kepada Raden Hasan. Setelah ayahnya meninggal, Raden Hasan pun dinobatkan menjadi Sultan dengan gelas Sultan Mahmud Badaruddin II. Ia adalah Sultan yang sangat sederhana dan dicintai rakyatnya. Sebagai orang yang menguasai wilayah kesultanan, Sultan Mahmud Badaruddin II tidak segan-segan mengadakan perjalanan untuk bertatap muka dengan rakyatnya. Ia tahu apa yang dibutuhkan rakyatnya.
Pada saat Sultan Mahmud Badaruddin II memerintah, negeri Belanda mengalami kekalahan dari Perancis. Saat itu penguasa Belanda bernama Raja Willem V mengungsi ke Inggris. Inggris mendapatkan kepercayaan dari Belanda untuk mengendalikan pemerintahan negeri jajahannya, termasuk Hindia Belanda atau Indonesia. “Terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada saya,” ucap Raffles dari Inggris yang diberi tugas menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Sejak itu, Raffles mengendalikan selurupemerintahan Hindia Belanda termasuk wilayah Kesultanan Palembang.
Sultan Mahmuda Badaruddin II ridak senang dengan adanya para penjajah. Pada tanggal 20 Maret 1812, Gubernur Jenderal Raffles mengirim armada ke wilayah Kesultanan Palembang. “Hancurkan penjajah!”, seru Sultan Mahmud Badaruddin II member semangat kepada rakyatnya. Armada Inggris yang berusaha mendarat di Palembang disambut dengan perlawanan gigih. Terjadilah pertempuran sengit. Dalam pertempuran itu, Inggris mengalami kekalahan. Pada saati itu pula Inggris mengakui adanya Kesultanan Palembang.
Selanjutnya Inggris menyerahkan kembali Hindia Belanda atau Indonesia kepada Belanda. Belanda ternyata ingin mengambil kembali kekuasaan atas Kesultanan Palembang. Sultan Mahmud Badaruddin II kembali menolak kedatangan penjajah Belanda. Maka meletuslah perang Palembang 1819-1821. “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh,” ungkapan itu selalu menggema di hati rakyat Kesultanan Palembang. Untuk menghalangi kedatangan armada Belanda, rakyat bersatu padu memancangkan tiang-tiang kayu yang kuat dan runcing di dasar sungai Musi. Dengan menggunakan siasat itu, usaha mereka berhasil. Kapal-kapal Belanda banyak yang tersangkut pada tiang-tiang itu dan saat itu pula pasukan Kesultanan Palembang menggempur habis-habisan.
Serangan pasukan Kesultanan Palembang menimbulkan banyak korban di pihak Belanda. Mereka gagal mendarat di hilir sungai Musi. Kegagalan ini membuat kecewa para pimpinan tentara Belanda di Batavia. “Kita kirim armada yang tangguh!” seru Jenderal Schubert pemimpin pasukan Belanda sambil mengepalkan tangannya. “Kita jangan sampai kalah dengan Sultan Kecil itu!” tambahnya.
Pengiriman armada besar-besaran dilakukan Belanda untuk menembus wilayah kekuasaan Kesultanan Palembang. Pasukan Sultan Mahmud Badaruddin II tak kalah gesitnya dengan armada Belanda. Mereka telah mempunyai firasat bahwa Belanda pasti akan menyerang habis-habisan. “Jaga ketat seluruh hilir sungai Musi!” perintah Sultan Mahmud Badaruddin II kepada seluruh rakyat. “Jangan sampai ada lubang sebesar jarum pun!” tambahnya. Pasukan Kesultanan dan rakyat bahu membahu menjaga sepanjang hilir sungai Musi dengan berbekal keberanian dan semangat tinggi.
Peperangan tak terelakkan. Banyak prajurit Belanda tertembak dan jatuh ke laut. Di sana-sini terdengar pekik kemenangan pasukan Palembang. Tetapi, tak disangka-sangka Belanda menawarkan gencatan senjata. Rakyat Palembang sebenarnya memang selalu ingin berdamai, juga terhadap Belanda, selama Belanda menghormati Kesultanan Palembang. Perundingan dilakukan di atas kapal Belanda. Ternyata perundingan tersebut hanyalah jebakan. Sultan Mahmud Badaruddin II ditangkap. Mula-mula Sultan dibawa ke Batavia, kemudian diasingkan ke Ternate. Namun perlawanan terhadap Belanda masih sering terjadi.
Pada tahun 1825, status Kesultanan Palembang dibubarkan dan dianggap sebagai daerah Keresidenan. Sultan Mahmud Badaruddin II berada di pengasingan selama 31 tahun. Beliau meninggal pada tahun 1852. Atas jasa-jasanya, pemerintah Indonesia menganugerahi beliau Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

Kebudayaan diantara masyarakat


Kebudayaan di antara masyarakat

Sebuah kebudayaan besar biasanya memiliki sub-kebudayaan (atau biasa disebut sub-kultur), yaitu sebuah kebudayaan yang memiliki sedikit perbedaan dalam hal perilaku dan kepercayaan dari kebudayaan induknya. Munculnya sub-kultur disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya karena perbedaan umur, ras, etnisitas, kelas, aesthetik, agama, pekerjaan, pandangan politik dan gender,

Ada beberapa cara yang dilakukan masyarakat ketika berhadapan dengan imigran dan kebudayaan yang berbeda dengan kebudayaan asli. Cara yang dipilih masyarakat tergantung pada seberapa besar perbedaan kebudayaan induk dengan kebudayaan minoritas, seberapa banyak imigran yang datang, watak dari penduduk asli, keefektifan dan keintensifan komunikasi antar budaya, dan tipe pemerintahan yang berkuasa.
  • Monokulturalisme: Pemerintah mengusahakan terjadinya asimilasi kebudayaan sehingga masyarakat yang berbeda kebudayaan menjadi satu dan saling bekerja sama.
  • Leitkultur (kebudayaan inti): Sebuah model yang dikembangkan oleh Bassam Tibi di Jerman. Dalam Leitkultur, kelompok minoritas dapat menjaga dan mengembangkan kebudayaannya sendiri, tanpa bertentangan dengan kebudayaan induk yang ada dalam masyarakat asli.
  • Melting Pot: Kebudayaan imigran/asing berbaur dan bergabung dengan kebudayaan asli tanpa campur tangan pemerintah.
  • Multikulturalisme: Sebuah kebijakan yang mengharuskan imigran dan kelompok minoritas untuk menjaga kebudayaan mereka masing-masing dan berinteraksi secara damai dengan kebudayaan induk.

Cara pandang terhadap kebudayaan


Cara pandang terhadap kebudayaan

Kebudayaan sebagai peradaban
Saat ini, kebanyakan orang memahami gagasan "budaya" yang dikembangkan di Eropa pada abad ke-18 dan awal abad ke-19. Gagasan tentang "budaya" ini merefleksikan adanya ketidakseimbangan antara kekuatan Eropa dan kekuatan daerah-daerah yang dijajahnya.

Mereka menganggap 'kebudayaan' sebagai "peradaban" sebagai lawan kata dari "alam". Menurut cara pikir ini, kebudayaan satu dengan kebudayaan lain dapat diperbandingkan; salah satu kebudayaan pasti lebih tinggi dari kebudayaan lainnya.

Artefak tentang "kebudayaan tingkat tinggi" (High Culture) oleh Edgar Degas.
Pada prakteknya, kata kebudayaan merujuk pada benda-benda dan aktivitas yang "elit" seperti misalnya memakai baju yang berkelas, fine art, atau mendengarkan musik klasik, sementara kata berkebudayaandigunakan untuk menggambarkan orang yang mengetahui, dan mengambil bagian, dari aktivitas-aktivitas di atas.

Sebagai contoh, jika seseorang berpendendapat bahwa musik klasik adalah musik yang "berkelas", elit, dan bercita rasa seni, sementara musik tradisional dianggap sebagai musik yang kampungan dan ketinggalan zaman, maka timbul anggapan bahwa ia adalah orang yang sudah "berkebudayaan".
Orang yang menggunakan kata "kebudayaan" dengan cara ini tidak percaya ada kebudayaan lain yang eksis; mereka percaya bahwa kebudayaan hanya ada satu dan menjadi tolak ukur norma dan nilai di seluruh dunia. 

Menurut cara pandang ini, seseorang yang memiliki kebiasaan yang berbeda dengan mereka yang "berkebudayaan" disebut sebagai orang yang "tidak berkebudayaan"; bukan sebagai orang "dari kebudayaan yang lain." Orang yang "tidak berkebudayaan" dikatakan lebih "alam," dan para pengamat seringkali mempertahankan elemen dari kebudayaan tingkat tinggi (high culture) untuk menekan pemikiran "manusia alami" (human nature)

Sejak abad ke-18, beberapa kritik sosial telah menerima adanya perbedaan antara berkebudayaan dan tidak berkebudayaan, tetapi perbandingan itu -berkebudayaan dan tidak berkebudayaan- dapat menekan interpretasi perbaikan dan interpretasi pengalaman sebagai perkembangan yang merusak dan "tidak alami" yang mengaburkan dan menyimpangkan sifat dasar manusia.

Dalam hal ini, musik tradisional (yang diciptakan oleh masyarakat kelas pekerja) dianggap mengekspresikan "jalan hidup yang alami" (natural way of life), dan musik klasik sebagai suatu kemunduran dan kemerosotan.

Saat ini kebanyak ilmuwan sosial menolak untuk memperbandingkan antara kebudayaan dengan alam dan konsep monadik yang pernah berlaku. Mereka menganggap bahwa kebudayaan yang sebelumnya dianggap "tidak elit" dan "kebudayaan elit" adalah sama - masing-masing masyarakat memiliki kebudayaan yang tidak dapat diperbandingkan.

Pengamat sosial membedakan beberapa kebudayaan sebagai kultur populer (popular culture) atau pop kultur, yang berarti barang atau aktivitas yang diproduksi dan dikonsumsi oleh banyak orang.

Kebudayaan sebagai "sudut pandang umum"
Selama Era Romantis, para cendekiawan di Jerman, khususnya mereka yang peduli terhadap gerakan nasionalisme - seperti misalnya perjuangan nasionalis untuk menyatukan Jerman, dan perjuangan nasionalis dari etnis minoritas melawan Kekaisaran Austria-Hongaria - mengembangkan sebuah gagasan kebudayaan dalam "sudut pandang umum".

Pemikiran ini menganggap suatu budaya dengan budaya lainnya memiliki perbedaan dan kekhasan masing-masing. Karenanya, budaya tidak dapat diperbandingkan. Meskipun begitu, gagasan ini masih mengakui adanya pemisahan antara "berkebudayaan" dengan "tidak berkebudayaan" atau kebudayaan "primitif."

Pada akhir abad ke-19, para ahli antropologi telah memakai kata kebudayaan dengan definisi yang lebih luas. Bertolak dari teori evolusi, mereka mengasumsikan bahwa setiap manusia tumbuh dan berevolusi bersama, dan dari evolusi itulah tercipta kebudayaan.

Pada tahun 50-an, subkebudayaan - kelompok dengan perilaku yang sedikit berbeda dari kebudayaan induknya - mulai dijadikan subyek penelitian oleh para ahli sosiologi. Pada abad ini pula, terjadi popularisasi ide kebudayaan perusahaan - perbedaan dan bakat dalam konteks pekerja organisasi atau tempat bekerja.

Kebudayaan sebagai mekanisme stabilisasi
Teori-teori yang ada saat ini menganggap bahwa (suatu) kebudayaan adalah sebuah produkdari stabilisasi yang melekat dalam tekanan evolusi menuju kebersamaan dan kesadaran bersama dalam suatu masyarakat, atau biasa disebut dengan tribalisme.